Higher Values in Bangka Belitung Folklore and Its Contemporer Context
Main Article Content
Abstract
This research finds out how far the noble values are contained in the Bangka Belitung folklores. These values are the result of the human mind reflection which will indirectly be revealed in folklore. Through the analysis of the noble value's description of each folklore, then it is simply sorted and observed which values are the most prominent. Qualitatively, there are 28 types of noble values with a total of 103 occurrences of noble values from the combination of the five Bangka Belitung folklores. The more dominant noble values are 20 social values, 11 hard work values, 10 compassion values, religious values, 8 culture and caring values. As for honesty and tenacity, they have 4 values. The noble values contained in the Bangka Folklore is relevant in the current state of individualism. The spirit of social care, hard work, compassion, and religious values persists in rural communities in Bangka Belitung.
Article Details

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution 4.0 International License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.Penulis.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (Refer to The Effect of Open Access).
References
Aliana, Zainal Arifin, et all. (2001). Sastra Lisan Bahasa Melayu Belitung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Ariputra, Rico. (2014). Kemingking dan Parang Bertuah. Pangkalpinang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Asyraf Suryadin. (2020). Kualitas Soal Buatan Guru, Motivasi Berprestasi dan Pengetahuan Pembuatan Tes. Banten: CV. AA. Rizky
Asyraf Suryadin. 2011). Hijau Kembali Pulauku (Pemanfaatan Kolong dan Lahan Kritis Pasca penambangan Timah). Bandung: CV. Amalia Book.
Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. (August 12, 2021). “Mengenal Nilai Sastra.”. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/petunjuk_praktis/623.
Bertens, K. (2007). Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum.
dan Pengembangan. Volume 1, Number 6, Page 966 -1001. EISSN: 2402471 X.
Dasin, Ichsan Mokoginta, dkk. (2015). Kelekak Sejarah Bangka. Sungailiat: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka.
Dinas Perpustakaan Kabupaten Beitung Timur. (2017). Antologi Kebudayaan Daerah Belitong. Manggar: Dinas Perpustakaan Kabupaten Belitung Timur.
Elvian, Akhmad. (2014). Kampoeng di Bangka. Jilid I. Pangkalpinang: Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga.
Endraswara, Suwardi (editor). (2020). Teori Sastra Terbaru, Konsep dan Aplikasi. Jakarta: CV. Grafika Indah.
Ferliansyah. (2014). Asal Mula Bikit Betung dan Bukit Siam. Pangkalpinang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Heritage Language Learners” Jurnal Kata Petra, Volume 21, Number 1, Page 1-9. DOI: https//doi.org/10.9744/kata.20.1.1.9
Indiarti, Wiwin. (2017). “Nilai-nilai Pembentukan Karakter dalam Cerita Rakyat Asal-Usul Watu Dodol” Jentera, Volume 6, Number 1, Juni 2017, page: 26- 41.
Johardi, Restu Dwi. (2014). Legenda Akek Belah Bulu dan Belang Tumpek. Pangkalpinang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Katrin, Irena. (2014). Asal Mula Pulau Lepar. Pangkalpinang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kurniati and ZAfika Ammya. (2011). Mengenal Sastra Melayu Bangka. Pangkalpinang: STKIPMBB Press.
Kurniawan, B & Suprajitno, S. (2020). “Chinese as a Culture Capital: The Case Study of Chinese
Kurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Melalui Dokumnetasi Folklor Lisan Kebudayaan Lokal. Jurnal Pendidikan: Teori Penelitian
Moleong, L.J. (2014). Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan Kedua. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mubarok Zaim. (2009). Membumikan Pendidikan Nilai (Cetakan ke-2). Bandung: Alfabeta.
Nurmariana. (2014). Keramat Pinang Gading. Pangkalpinang: Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Purba, N. (2020). The Use of Simalungun Language by Anak Boru Sanina in the Simalungun Wedding Ceremony (Sociolinguistic Studies). Lakhomi Journal: Scientific Journal of Culture. 1-7
Ranggi Ramadhani Ilminisa, Wahyudi Siswanto, Yazid Basthomi. (2016). Bentuk Karakter Anak
Sugiarti. (2018). “Lingkungan Budaya (Ekobudaya) dalam Sastra Peretas Nilai-nilai Luhur Bangsa “ Prosiding SENASBASA (Seminar Nasional Bahasa dan Sastra), Edisi 3 Tahun 2018, page: 10-16. http://research-report.umm.ac.id/index.php/SENASBASA. Diakses 12 Agustus 2021.
Sulistyorini, Dwi dan Eggy Fajar Andalas. (2017). Sastra Lisan, Kajian Teori dan Penerapannya dalam Penelitian. Malang: Madani Kelompok Intrans Publishing.